Pages

Subscribe:

Selasa, 02 Agustus 2011

model belajar " bermain peran "

BAB 1

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Bermain peran merupakan salah satu alternative yang dapat ditempuh. Hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa bermain peran merupakan salah satu model yang dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran. Dalam hal ini, bermain peran diarahkan pada pemecahan masalah yang menyangkut hubungan antar manusia, terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.
Manusia merupakan makhluk social dan individual, yang dalam hidupnya senantiasa berhadapan dengan manusia lain atau situasi di sekelilingnya. Mereka berinteraksi, berinterdepedensi dan pengaruh mempengaruhi. Sebagai individu manusia memiliki pola yang unik dalam berhubungan dengan manusia lain. Ia memiliki rasa senang, tidak senang, percaya, curiga, dan ragu terhadap orang lain. Namun perasaan tersebut diarahkan juga pada dirinya. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan dirinya itu mempengaruhi pola respon individu terhadap individu lain atau situasi di luar dirinya. Karena senang dan penasaran ia cenderung mendekat. Karena tidak senang dan curiga ia cenderung menjauh. Manipestasi tersebut disebut”peran”.
Peran dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perasaan, ucapan dan tindakan, sebagai suatu pola hubungan unik yang ditunjukkan oleh individu terhadap individu lain. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap dirinya dan terhadap orang lain.
Bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi.

B. PERMASALAHAN
Dalam pembahasaan materi ini yang menjadi permasalahan secara umum adalah ;
  • Bagaimana penerapan metode bermain peran dalam kegiatan belajar mengajar agar dapat menghidupkan  suasana belajar ?

C. TUJUAN
            Dalam pembahasan ini melalui bermain peran dalam pembelajaran, diharapkan para peserta didik dapat ;
  1. Mengeksplorasi perasaannya
  2. Memperoleh wawasan tentang sikap, nilai, dan persepsinya
  3. Mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi
  4. Mengeksplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara.


BAB II
PEMBAHASAN

A.HAKEKAT PEMBELAJARAN “BERMAIN PERAN “ ( role playing )
Kadang – kadang banyak peristiwa psikologis atau social yang sukar bila dijelaskan dengan kata – kata belaka. Maka perlu didramatisasikan atau siswa dipartisipasikan  untuk berperanan dalam peristiwa social itu.
Dalam hal ini perlu teknik Sosiodrama ialah siswa dapat mendramatisasikan tingkah laku, atau ungkapan gerak gerik wajah seseorang dalam hubungan social antar manusia atau dengan role playing dimana siswa bisa berperan atau memainkan peranan dalam dramatisasi masalah social / psikologis itu. Karena itu kedua tehnik ini hampir sama, maka dapat digunakan bergantian tidak ada salahnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Bermain peran berarti mendramatisasikan cara bertingkah laku orang-orang tertentu di dalam posisi yang membedakan peranan masing-masing dalam suatu organisasi atau kelompok di masyarakat. Bermain peran (role playing)  juga merupakan situasi suatu masalah yang diperagakan secara singkat, dengan tekanan utama pada karakter atau sifat orang-orang, kemudian diikuti dengan diskusi tentang masalah yang baru diperagakan tersebut. Langkah-langkah pembelajaran diawali dengan menentukan permasalahan berikut situasinya, mengatur para pelaku, peragaan situasi, menghentikan peragaan setelah mencapai klimaks, menganalisis dan membahas karakteristik yang diperankan, dan mengevaluasi hasil.
Pada pembelajaran bermain peran, pemeranan tidak dilakukan secara tuntas sampai masalah dapat dipecahkan. Hal ini dimaksudkan untuk mengundang rasa kepenasaran peserta didik yang menjadi pengamat agar turut aktif mendiskusikan dan mencari jalan ke luar. Dengan demikian, diskusi setelah bermain peran akan berlangsung hidup dan menggairahkan peserta didik.
Hakekat pembelajaran bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi prinsip dalam kegiatan belajar adalah bahwa peserta didik memiliki kebutuhan belajar, memahami teknik belajar, dan berperilaku belajar. Prinsip dalam kegiatan membelajarkan bahwa pendidik menguasai metode dan teknik pembelajaran, memaham materi atau bahan belajar yang cocok dengan kebutuhan belajar, dan berperilaku membelajarkan peserta didik. Prinsip-prinsip tersebut dijabarkan dalam langkah operasional kegiatan pembelajaran, sebagai wujud interaksi edukasi antara pendidik dengan peserta didik dan/atau antar peserta didik. Pendidik berperan untuk memotivasi, menunjukkan, dan membimbing peserta didik supaya peserta didik melakukan kegiatan belajar. Sedangkan peserta didik berperan untuk mempelajari, mempelajari kembali, memecahkan masalah guna meningkatkan taraf hidup dengan berpikir dan berbuat di dalam dan terhadap dunia kehidupannya.
Bermain peran (role playing) merupakan jenis metode simulasi yang bertitik tolak dari permasalahan yang berhubungan dengan tujuan untuk mengkreasi kembali peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu, mengkreasi kemungkinan-kemungkinan masa depan, mengekspos kejadian-kejadian masa kini (Sudirman N, dkk., 1990: 161). Penerapan model pembelajaran role playing mampu membekali siswa dengan beberapa jenis kecerdasan. Menurut Goleman sebagaimana dikutip oleh Mastuhu (2000: 65), bahwa banyak hal atau kejadian yang secara logika benar, tetapi perasaan menyatakan hal itu salah, karena itulah seringkali diperlukan keahlian kecerdasan akal didampingi kecerdasan emosi.
Aspek-aspek kecerdasan itu antara lain: kecerdasan akal, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan sosial.
Ø  Kecerdasan akal (IQ) merupakan tuntutan untuk mengetahui sesuatu secara sistematis dan logis.
Ø  Kecerdasan emosi (EQ), yang berakar dalam hati nurani yang amat mendalam dan kesadaran diri. Kecerdasan emosi akan membekali siswa memiliki kemampuan memanfaatkan nilai-nilai luhur dan mengambil keputusan dalam kehidupan bersama, penilaian diri yang mengantarkan peserta didik memiliki kemampuan belajar dari pengalaman dan percaya diri, yang akan mengantarkan peserta didik memiliki kemampuan dan keberanian menyatakan kebenaran. Kecerdasan emosi ini merupakan the inner rudder, kekuatan dari dalam, sifatnya alami dan dapat berkembang dengan kuat melalui berbagai akumulasi pengalaman yang panjang dan beragam.
Ø  Kecerdasan spiritual (SQ) atau kecerdasan agama, menurut Goleman, adalah pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan, dan aktivitas (kegiatan) yang theisness atau penghayatan ketuhanan yang di dalamnya kita semua memilikinya dan yang harus kita temukan.
B. PEMBELAJARAN DENGAN METODE “ BERMAIN PERAN “
Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Metode bermain peran dilakukan apabila kita ingin menerangkan suatu peristiwa yang didalamnya menyangkut orang banyak, kita beranggapan lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan karena akan lebih jelas. Selain itu, apabila kita ingin melatih anak-anak agar mereka dapat menyelesaikan masalah- masalah yang bersifat social psikologis. Dalam metode ini juga terdapat segi positif dan segi negatif yakni :
·         Segi positif
1.      Melatih anak untuk mendramatisasikan sesuatu serta melatih keberanian.
2.      Metode ini akan menarik perhatian anak sehingga suasana kelas menjadi hidup.
3.      Anak – anak dapat menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.
4.      Anak dilatih untuk menyusun pikirannya dengan teratur.
·         Segi negatif
1.      Metode ini memerlukan waktu cukup lama.
2.      Memerlukan persiapan yang teliti dan matang.
3.      Kadang-kadang anak tidak mau mendramatisasikan suatu adegan karena malu.
4.      Kita tidak dapat mengambil kesimpulan apa – apa apabila pelaksanaan dramatisasi itu gagal.
Pendekatan dan metode yang dipilih guru dalam memberikan suatu materi pelajaran sangat menentukan terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Tidak pernah ada satu pendekatan dan metode yang cocok untuk semua materi pelajaran, dan pada umumnya untuk merealisasikan satu pendekatan dalam mencapai tujuan digunakan multi metode.
Metode dibedakan dari pendekatan ; metode lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan, sedangkan pendekatan ditekankan pada perencanaannya.
Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya.
Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:
  1. Secara implicit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Terhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain.
  2. Bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran.
  3. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi.
  4. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan.

Dengan demikian, para peserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya. Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni ;
  1. Kualitas pemeranan
  2. Analisis dalam diskusi
  3. Pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata.

C.TAHAPAN DALAM METODE “BERMAIN PERAN “

Menurut Shaftel (1967) mengemukakan sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran ;

1.Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik
Menghangatkan suasana kelompok termasuk mengantarkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, menjelaskan masalah, menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu, serta menjelaskan peran yang akan dimainkan. Masalah dapat diangkat dari kehidupan peserta didik, agar dapat merasakan masalah itu hadir dihadapan mereka, dan memiliki hasrat untuk mengetahui bagaimana masalah yang hangat dan actual, langsung menyangkut kehidupan peserta didik, menarik dan merangsang rasa ingin tahu peserta didik, serta memungkinkan berbagai alternative pemecahan.
Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. Bermain peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru.

2.Memilih partisipan/peran
Memilih peran dalam pembelajaran, tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan, kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran. Jika para peserta didik tidak menyambut tawaran tersebut, guru dapat menunjuk salah seorang peserta didik yang pantas dan mampu memerankan posisi tertentu.

3.Menyusun tahap-tahap peran
Menyusun tahap-tahap baru, pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dalam hal ini, tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Guru membantu peserta didik menyiapkan adegan-adegan dengan mengajukan pertanyaan.
Misalnya ; Di mana pemeranan dilakukan, apakah tempat sudah dipersiapkan, dan sebagainya. Persiapan ini penting untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi seluruh peserta didik, dan mereka siap untuk memainkannya.

4.Menyiapkan pengamat
Menyiapkan pengamat, sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya.
Menurut Sharfel dan Shaftel (1967) agar pengamat turut terlibat, mereka perlu diberi tugas. Misalnya ;
Ø  Menilai apakah peran yang dimainkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya?
Ø  Bagaimana keefektifan perilaku yang ditunjukkan pemeran?
Ø  Apakah pemeran dapat menghayati peran yang dimainkan?

5.Pemeranan
Tahap pemeranan, pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing. Mereka berusaha memainkan setiap peran seperti benar-benar dialaminya. Mungkin proses bermain peran tidak berjalan mulus karena para peserta didik ragu dengan apa yang harus dikatakan akan ditunjukkan.
Menurut Sharfel dan Shaftel (1967) mengemukakan bahwa pemeranan cukup dilakukan secara singkat, sesuai tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang diperankan serta jumlah peserta didik yang dilibatkan, tak perlu memakan waktu yang terlalu lama. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup, dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. Adakalanya para peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah mamakan waktu yang terlampau lama.
Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan. Sebaliknya pemeranan dihentikan pada saat terjadinya pertentangan agar memancing permasalahan untuk didiskusikan.

6.Diskusi dan evaluasi
Diskusi dan evaluasi pembelajaran, diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran, baik secara emosional maupun secara intelektual. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan, para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi. Diskusi mungkin dimulai dengan tafsirkan mengenai baik tidaknya peran yang dimainkan selanjutnya mengarah pada analisis terhadap peran yang ditampilkan, apakah cukup tepat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

7.Pemeranan ulang
Pemeranan ulang, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternative pemeranan. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya.



8.Diskusi dan evaluasi tahap dua
Diskusi dan evaluasi tahap dua, diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam, hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang, dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. Para peserta didik menyetujui cara tertentu untuk memecahkan masalah, meskipun dimungkinkan adanya peserta didik yang belum menyetujuinya. Kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang pasti dalam menghadapi masalah kehidupan.

9.Membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan.
Membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan, tahap ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama bermain peran ialah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman berharga dalam hidupnya melalui kegiatan interaksional dengan temannya. Mareka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Hal ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling tukar pengalaman. Proses ini mewarnai seluruh kegiatan bermain peran, yang ditegaskan lagi pada tahap akhir.
Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, guru, teman dan sebagainya. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan.
Untuk kepentingan tersebut, sejumlah peserta didik bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya. Melalui peran, peserta didik berinteraksi dengan orang lain yang juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih.
Selama pembelajaran berlangsung, setiap pemeranan dapat melatih sikap empati, simpati, rasa benci, marah, senang, dan peran lainnya. Pemeranan tenggelam dalam peran yang dimainkannya sedangkan pengamat melibatkan dirinya secara emosional dan berusaha mengidentifikasikan perasaan dengan perasaan yang tengah bergejolak dan menguasai pemeranan.

D.TUJUAN PEMBELAJARAN DENGAN METODE “ BERMAIN PERAN “
Metode pembelajaran bermain peran (Role playing ) digunakan untuk mencapai tujuan – tujuan sebagai berikut :
  • Membantu murid dalam memahami perasaan dan pikiran orang lain yang ditampilkan di dalam tingkah laku masing-masing.
  • Membantu murid agar bersedia berbagi dan memikul tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Membantu murid memahami dan menghormati nilai-nilai dalam kehidupan sebagai bagian dari umat/bangsa.
  • Membantu murid agar mampu menghargai pendapat orang lain.
  • Membantu murid agar berani dan mampu mengambil keputusan dalam kelompoknya (Hadari Nawawi, 1993: 295-302).




 BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN
Berdasarkan beberapa penjelasan dalam makalah ini, kami  dapat menyimpulkan kedalam beberapa hal bahwa melalui model pembelajaran bermain peran para peserta didik dapat berlatih untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi,menghormati  nilai – nilai dalam masyarakat dan melatih percaya diri dalam mengemukakan sesuatu opini dengan mengekpresikan kedalam tingkah laku masing-masing.
Selain itu, pada pembelajaran bermain peran dapat mengundang rasa kepenasaran peserta didik yang menjadi pengamat agar turut aktif mendiskusikan dan mencari jalan ke luar. Dengan demikian, diskusi setelah bermain peran akan berlangsung hidup dan menggairahkan peserta didik.

B.SARAN
            Dengan adanya pembahasan ini kami mengharapkan agar pendidik dan peserta didik dapat menerapkan metode “ bermain peran “ dalam pembelajaran secara berkesinambungan untuk mewujudkan suasana belajar yang menggairahkan peserta didik. Kami menyadari, makalah ini jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, Saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan guna penyempurnaan makalah  ini agar lebih baik di kemudian hari.








DAFTAR PUSTAKA

Roestiyah. 1991. “ Strategi Belajar Mengajar “. Jakarta : Rineka Cipta.

Syah Muhibbin. 1995. “Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru “ .Bandung : Remaja Rosda Karya.























hukum adat (dayak kanayatn)

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG

            Dayak merupakan nama kolektif untuk demikian banyak suku asli di Kalimantan, yang sebagian besar menghuni daerah pedalaman. Daerah hilir atau daerah pantai yang mengitari mereka dihuni oleh orang Melayu, Banjar, Bugis, Jawa, Madura, dan lain-lain.
            Suku Dayak, sebagaimana suku lainnya , memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang berlaku bagi mereka. Kebudayaan Dayak terus mengalami perubahan karena pengaruh dari luar dan dalam. Beberapa program pembangunan dan pembaharuan, kurang menghargai nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Dayak.
Upacara dalam masyarakat Dayak Kanayatn tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan dan religi. Perwujudannya direalisasikan melalui berbagai ritus atau upacara ritual, agar mereka memperoleh pertolongan roh gaib, roh para leluhur, dan Jubata. Upacara dalam konsep kepercayaan seperti itu dimaksudkan sebagai pembuktian keyakinan terhadap Jubata sekaligus pemantapannya. Ia merupakan transpormasi hubungan manusia dengan alam gaib sebagaimana tergambar dalam setiap prosesi upacara. Di sinilah masyarakat memperjelas dan mempertegas konsep tentang apa yang mereka yakini dan adat yang mereka jalankan. Usaha memperjelas itu dilalui dengan tindakan, mantra-mantra, nyanyian, musik dan tari, sampai pada penuangan simbol-simbol tertentu. Konsep seperti ini akhirnya membawa posisi religi lebih mendominasi dalam kehidupan mereka. Mereka membagi upacara-upacara tersebut menjadi beberapa macam

B. PERUMUSAN MASALAH PENULISAN
            Adapun masalah dalam makalah ini adalah :
  1. Sekilas tentang dayak
  2. Upacara adat dayak kanayatn
  3. Kesenian
  4. Tradisi lisan & non lisan adat istiadat dayak kanayatn

C.TUJUAN PENULISAN
            Tujuan dari penulisan ini, penulis membagi menjadi dua, yaitu :
  1. Tujuan umum
Sebagai motivasi bagi generasi muda suku dayak kanayatn dalam memberdayakan adat istiadat dayak kanayatn dan dapat mempertahankan budaya yang ada.
  1. Tujuan khusus
Untuk mengetahui adat istiadat dayak kanayatn baik yang masih ada hingga sekarang maupun yang telah punah dimakan oleh jaman dan globalisasi serta modernisasi yang sedang melanda Indonesia khusnya Kalimantan barat ini.

D.  MAMFAAT PENULISAN
            Mamfaat penulisan makalah ini :
  1. bagi penulis :
penulisan makalah ini menjadi suatu pengalaman yang teramat besar bagi penulis karena penulisan ini sebagai masukan sekaligus sebagai pengetahuan bagi kami dalam mengetahui adat istiadat dayak kanatn ini sendiri.
  1. bagi pembaca :
makalah yang kami susun/kami buat ini kami selaku penulis berharap makalah ini dapat dijadikan referensi untuk kedepan nya.

E. METODE PENULISAN
            Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode penulisan normatif, karna pembuatan makalah ini diambil dari buku dan juga dari internet.


BAB II
PEMBAHASAN

SEKILAS TENTANG DAYAK

            Dayak merupakan nama kolektif untuk demikian banyak suku asli di Kalimantan, yang sebagian besar menghuni daerah pedalaman. Daerah hilir atau daerah pantai yang mengitari mereka dihuni oleh orang Melayu, Banjar, Bugis, Jawa, Madura, dan lain-lain.
            Suku Dayak, sebagaimana suku lainnya , memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang berlaku bagi mereka. Kebudayaan Dayak terus mengalami perubahan karena pengaruh dari luar dan dalam. Beberapa program pembangunan dan pembaharuan, kurang menghargai nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Dayak.
 Pada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kurang memahami pola kehidupan dan cara berpikir masyarakat Dayak. Contohnya adalah “rumah panjang” atau rumah betang orang Dayak, yang dipandang sebagai salah satu faktor penghambat dalam pembinaan dan pembangunan masyarakat yang modern

UPACARA ADAT DAYAK KANAYATN

  1. Upacara yang Berkaitan dengan Inisiasi

1) Upacara sebelum perkawinan.
Biasanya sebelum upacara pernikahan diadakan, terlebih dahulu pihak keluarga melakukan Bahaupm (musyawarah). Pada upacara ini calon mempelai laki-laki dan mempelai perempuan akan menentukan apakah suami ikut istri atau sebaliknya.
2) Upacara Batalah
Upacara Batatah, yaitu upacara untuk memberi nama pada bayi yang baru lahir. Upacara ini dilakukan setelah tiga atau tujuh hari kelahiran bayi yang didahului dengan prosesi pemandian bayi. Apabila upacara ini dilakukan pada hari ketiga setelah kelahiran bayi, maka upacara ini harus disertai dengan penyembelihan seekor ayam untuk selamatan. Bila upacara dilaksanakan pada hari ketujuh, maka disembelih seekor babi untuk perjamuan dan balas jasa yang menolong kelahiran.

3). Upacara Batenek
Batenek adalah upacara melubangi telinga anak perempuan. Upacara ini dilakukan setelah anak berumur antara dua sampai tiga tahun.
4) Upacara Babalak
Babalak adalah upacara penyunatan anak laki-laki di bawah usia sepuluh tahun. Upacara ini masih tetap dijalankan walaupun orang Dayak masih memegang kuat kepercayaan lama. Dalam upacara ini biasanya disembelih tiga ekor babi dan dua belas ekor ayam. Bagi keluarga yang tidak mampu, perayaannya dapat digabungkan dengan keluarga lain yang mampu, namun harus menyumbang seekor ayam, tiga kilogram beras sunguh (beras biasa), dan tiga kilogram beras pulut (ketan).
5) Upacara adat Karusakatn.
Karusakatn adalah upacara yang berhubungan dengan kematian. Bagi orang Dayak Kanayatn, orang yang meninggal harus dikuburkan paling lama satu malam setelah meninggal. Upacara kematian ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu:
(a) Upacara adat Basubur, yakni upacara untuk memberi makan orang yang telah meninggal
(b) Upacara Barapus, yaitu upacara yang dilakukan tiga hari setelah pemakaman untuk memberitahukan kepada orang yang meninggal bahwa ia telah meninggal dunia

b. Upacara yang Berkaitan dengan Pertanian
Masyarakat Dayak Kanayatn merupakan masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pertanian. Sebagai masyarakat petani, orang Dayak Kanayatn memiliki beberapa tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian selama satu tahun, yang dkenal dengan adat bahuma batahutn. Menurut aturan adat dikenal sejumlah upacara yang dilakukan pada setiap tahapan pertanian. Tahap-tahap pertanian ini dimulai setiap bulan Juni sampai bulan April. Adapun urutan upacara yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Upacara Nabo’ Panyugu Nagari
Sebelum membuka suatu lahan pertanian, pertama-tama seluruh penduduk desa harus meminta ijin bersama-sama dengan cara berdoa di Panyugu (tempat ibadat) ketemenggungan. Agar doa ini terkabul, maka penduduk harus bapantang (menjalankan pantang) selama tiga hari tiga malam. Selama masa bapantang itu masyarakat tidak boleh bekerja, tidak makan daging, pakis, rebung, cendawan, dan keladi. Mereka juga tidak boleh mengeluarkan kata-kata kotor atau umpatan yang dapat menyebabkan bapantang itu gagal.
2) Upacara Nabo’ Panyugu Tahutn
Upacara ini dilakukan untuk menetapkan lokasi pertanian dengan sembahyang di Panyugu untuk memohon keselamatan dan berkah yang baik. Hal ini dilakukan karena masyarakat Dayak Kanayatn parcaya bahwa keberhasialan ritual dapat menentukan keberhasilan panen mereka tahun itu.
3) Kegiatan Ngaratas
Ngaras merupakan kegiatan membuat lajur batas atas lahan pertanian dengan lahan tetangga. Setelah itu barulah bahuma (menebas) hutan sampai dengan selesai. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dan agar tidak terjadi pengambilan batas tanah ladang orang lain.
6) Nabakng
Nabakng adalah upacara menebang pohon setelah kegiatan menebas. Setelah itu dilakukan upacara baremah dengan membuat persembahan untuk Jubata, agar diperbolehkan memakai lahan pertanian atau ladang yang akan digarap. Bila ada pohon besar, maka pohon tersebut tidak ditebang, melainkan hanya dikurangi cabang-cabangnya. Orang Dayak Kanayatn percaya bahwa pohon besar biasanya dihinggapi burung tingkakok atau burung berkat padi yang menjaga dan menimbang buah padi, sehingga pada waktu panen nanti akan mendapat padi yang baik (berisi) dan melimpah.
7) Ngarangke Raba’
Ngarangke Raba’ adalah upacara mengeringkan tebasan dan tebangan dalam beberapa waktu untuk kemudian dibakar. Sebelum dibakar dilakukan ngaraki’ yaitu membersihkan daerah sekeliling yang akan dibakar untuk pencegahan merambatnya api secara luas. Upacara ini dilakukan untuk meminta berkah pada roh pelindung sebelum pekerjaan selanjutnya dilaksanakan.
Membuat Solor atau Jaujur
Upacara ini adalah upacara pembuatan tanda batas antara ladang milik sendiri dengan ladang tetangga agar jangan sampai terjadi kesalahpahaman karena kesalahan pemakaian batas tanah garapan.

9) Upacara Batanam Padi
Upacara Batanam padi ini terdiri dari:
(a) Upacara Ngalabuhan, yakni upacara memulai tanam padi
(b) Upacara Ngamala Lubakng Tugal. Upacara ini dilakukan di sawah atau ladang secara intensif agar padi yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, berhasil dan tidak diganggu hama
(c) Upacara Ngiliratn penyakit padi atau menghanyutkan padi-padi bekas gigitan hama maupun binatang ke sungai dengan maksud membuang sial (penyakit).
10) Upacara Ngabati
Upacara ini dilaksanakan di tengah ladang pada saat hendak panen padi atau saat padi menguning. Upacara ini merupakan permohonan agar padi yang telah menguning tersebut tidak diganggu hama tikus dan agar semua padi berisi, sehingga bila panen tiba hasilnya banyak.
11) Upacara Naik Dango
Upacara Naik Dango merupakan upacara inti dari beberapa tahapan upacara yang berkaitan dengan panen padi (pesta penen). Upacara ini merupakan upacara syukuran padi yang dilaksanakan masyarakat Dayak Kanayatn setiap setahun sekali pada tanggal 27 April. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran setiap kecamatan di Kabupaten Landak. Upacara ini merupakan upacara besar yang banyak melibatkan masyarakat dan kesenian di dalamnya. Upacara adat Naik Dango adalah sebuah upacara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Nek Jubata (sang pencipta) atas hasil panen padi yang melimpah. Selain untuk bersyukur, masyarakat Dayak di Kalimantan Barat melakukan upacara Naik Dango ini juga untuk memohon kepada Sang Pencipta agar hasil panen tahun depan bisa lebih baik, serta masyarakat dihindarkan dari bencana dan malapetaka.
Tahap pelaksanaan upacara Naik Dango yaitu sebagai berikut :
1. Sebelum hari pelaksanaan
Sebelum hari pelaksanaan, terlebih dahulu dilakukan pelantunan mantra (nyangahathn) yang disebut Matik. Hal ini bertujuan untuk memberitahukan dan memohon restu pada Jubata.
2. Saat hari pelaksanaan
Pada hari pelaksanaan dilakukan 3 kali nyangahathn :
• pertama di Sami, bertujuan untuk memanggil jiwa atau semangat padi yang belum datang agar datang kembali ke rumah adat.
• kedua di Baluh/Langko, bertujuan untuk mengumpulkan semangat padi di tempatnya yaitu di lumbung padi.
• ketiga di Pandarengan, tujuannya yaitu berdoa untuk memberkati beras agar dapat bertahan dan tidak cepat habis.
Naik Dango merupakan satu-satunya peristiwa budaya Dayak Kendayan yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Dalam Upacara Adat Naik Dango, selain acara inti yakni “nyangahathn”. Upacara Adat Naik Dango intinya hanya berlangsung satu hari saja tetapi karena juga menampilkan berbagai bentuk budaya tradisional di antaranya berbagai upacara adat, permainan tradisional dan berbagai bentuk kerajinan tangan yang juga bernuansa tradisional, sehingga acara ini berlangsung selama tujuh hari. Penyajian berbagai unsur tradisional, selama Upacara Adat Naik Dango ini, menjadikannya sebagai even yang eksotis ditengah-tengah kesibukan masyarakat Dayak. Upacara Adat Naik Dango merupakan perkembangan lebih lanjut dari acara pergelaran kesenian Dayak yang diselenggarakan oleh Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (SEKBERKESDA) pada tahun 1986. perkembangan tersebut kuat dipengaruhi oleh semangat ucapan syukur kepada Jubata yang dilaksanakan Masyarakat Dayak Kendayan di Menyuke setiap tahun setelah masa panen padi usai. Dalam bentuknya yang tradisional, pelaksanaan Upacara Adat pasca panen ini dibatasi di wilayah kampung atau ketemanggungan. Inti dari upacara ini adalah nyangahathn yaitu pelantunan doa atau mantra kepada Jubata, lalu mereka saling mengunjungi rumah tetangga dan kerabatnya dengan suguhan utamanya seperti: poe atau salikat (lemang atau pulut dari beras ketan yang dimasak di dalam bambu), tumpi cucur), bontonkng (nasi yang dibungkus dengan daun hutan seukuran kue), jenis makanan tradisional yang terbuat dari bahan hasil panen tahunan dan bahan makanan tambahan lainnya
KESENIAN

  1. Seni Rupa

a. Seni Pahat dan Seni Ukir
Seni patung dalam masyarakat Dayak Kanayatn biasa disebut pantak. Pantak merupakan simbol penting dalam pemujaan sebagai penggambaran arwah nenek moyang yang telah meninggal. Pantak dibuat untuk menangkal roh jahat yang mengancam warga (malapetaka). Biasanya dipasang di jalan masuk kampung maupun panyugu.
Seni topeng dan seni patung saat ini sukar sekali ditemukan, terutama ketika agama Kristen dan Islam mulai masuk dalam kehidupan orang Dayak. Bentuk kesenian ini dilarang karena dianggap menyembah berhala atau bertentangan dengan konsep keimanan yang berlaku dalam agama tersebut.
Seni ukir merupakan salah satu bentuk penyimbolan yang paling menonjol dalam kebudayaan Dayak. Karakter kehidupan dan budaya masyarakatnya tergambar dalam kesenian tersebut, sehingga dengan melihat kesenian itu dapat diketahui kebudayaan suku yang bersangkutan. Hal ini karena kesenian tradisional tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat diwilayahnya, dengan demikian ia mengandung sifat-sifat atau ciri-ciri yang khas dari masyarakatnya pula.”
Seni ukir biasanya terdapat pada ornamen tiang utama rumah panjang atau tiang teras. Selain itu juga ada tiang sandung (tempat menyimpan tulang orang mati) yang didirikan di depan rumah penduduk sebagai lambang keperkasaan sesorang. Di bagian atap tiang sandung dihiasi ukiran burung enggang yang melambangkan keagungan dan kewibawaaan tuan rumah.
Ketika arus modernisasi masuk dalam kehidupan orang Dayak, seni ukir ini hampir tidak ditemukan lagi, seiring musnahnya rumah panjang dan pengaruh agama baru. Seni ukir telah tergantikan dengan pekerjaan lain untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sehingga segala macam kesenian yang tidak dapat bertahan telah terpinggirkan atau digantikan dengan pekerjaan lain yang lebih menguntungkan dan dianggap dapat mengatasi masalah perekonomian hidup masyarakat Dayak Kanayatn secara umum. Hal ini berkaitan dengan istilah “negara yang sedang berkembang”, dimana pengertian proses pengintegrasian unsur-unsur tradisional untuk suatu solidaritas nasional, mencakup juga pengembangan hasil integrasi unsur-unsur tadi untuk peningkatan kesejahteraan kehidupan bangsa yang menjunjung unsur-unsur kebudayaan itu. Warisan lama yang berbentuk pengaturan kehidupan material yang dianggap tidak mungkin bisa mengatasi tuntutan persoalan mereka yang baru akan ditinjau kembali dan diusahakan pembaharuan”. Oleh karena itu seni ukir yang dianggap tidak dapat mengatasi permasalahan ekonomi ditinggalkan dan diganti dengan pekerjaan lain yang dianggap mampu mengatasi masalah mereka. Selain itu tidak ada pengenalan dan pembelajaran kepada generasi berikutnya mengenai kesenian tersebut, sehingga kaum muda Dayak Kanayatn tidak banyak mengetahui tentang seni ukir yang pernah ada dalam kebudayaan mereka.
b. Seni Anyam
kegiatan kreatif bagi masyarakat Dayak Kanayatn adalah seni anyam. Seni semacam ini sudah lama diwariskan secara turun-temurun. Bahannya kebanyakan dari rotan, sedangkan hasilnya berupa bakul-bakul kecil dan besar, keranjang, topi besar atau caping yang motifnya beragam. Disamping itu ada pula seni menganyam mute warna-warni yang dijadikan baju, ikat kepala, sampai kepada gantungan kunci dan tempat pena sebagai souvenir.
c. Seni Menempa Besi
Masyarakat Kanayatn banyak yang pandai menempa besi yang biasa disebut pantanatn. Beragam bentuk benda atau alat dari hasil pekerjaan menempa besi memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari, yaitu untuk melambangkan keterikatan mereka dengan adat dan tradisi. Hasilnya berupa parang, seraut, beliung (sejenis kampak) dan lain sebagainya.
d. Seni Tenun
Menenun dikerjakan sebagai pekerjaan sambilan kaum wanita Dayak Kanayatn. Pekerjaan ini menggunakan alat sederhana dan tradisional. Barang yang menghasilkan terbilang indah dan unik, seperti baju adat yang dihiasi oleh motif-motif tradisional Dayak Kanayatn.
Masuknya modernisasi menyebabkan perkerjaan tenun telah ditinggalkan masyarakat. Hal ini karena perkembangan zaman menuntut masyarakat untuk bersaing disegala bidang kehidupan yang berorientasi pada peningkatan ekonomi. Mereka menganggap bahwa pekerjaan menenun banyak memboroskan waktu dan hasilnya tidak dapat dijadikan penunjang perekonomian, sehingga pekerjaan ini ditinggalkan dan tidak dikerjakan lagi. Akhirnya kesenian yang sebenarnya berpotensi besar bagi penunjang kehidupan ekonomi dan budaya telah tenggelam ditinggalkan pemiliknya sendiri.

  1. Seni Pertunjukan
    A. Seni Tari

Perbedaan yang mendasar dari kedua bentuk kesenian itu teletak pada proses penggunaannya, sebagai tarian ritual khusus dibawakan pada upacara ritual. Tarian tersebut dianggap sakral dan harus digunakan pada tempatnya. Tarian kesenian tradisi, walaupun terkadang sama-sama diperuntukan dalam konteks upacara, namun hanya sebagai hiburan yang dibawakan sesudah upacara inti selesai dan dapat digunakan dalam konteks lain.
Ada beberapa jenis tarian upacara ritual dalam masyarakat Dayak Kanayatn, antara lain tari Amboyo, tari Totokng, tari Baliatn. Tari Amboyo adalah tari yang digunakan pada upacara Naik Dango, yaitu upacara syukuran padi atau pesta panen. Tari Totokng adalah tarian yang digunakan pada upacara Notokng, yaitu upacara penghormatan kepada kepala kayauan. Upacara ini dilakukan untuk membuang sangar atau dosa bekas pekerjaan mengayau (berburu untuk memotong kepala) jaman dahulu, dan memohon agar selalu diberikan keselamatan. Tari Baliatn adalah tarian yang digunakan dalam upacara Baliatn. Semua tarian yang dibawakan dalam upacara itu senantiasa diiringi irama musik Dayak Kanayatn. Penggunaan musik dan tarian tersebut disesuaikan dengan upacara, sehingga masyarakat Dayak Kanayatn banyak mempunyai jenis tarian dan musik yang terkait erat dengan upacara.
*      jonggan
Jonggan Merupakan kesenian daerah dayak Kanayant yang sejak dulu sudah ada dan sampai sekarang masih jadi budaya kesenian daerah.Jonggan juga sering di tampilkan di pesta-pesta besar seperti: Gawai Dayak,pesta Perkawinan,dan hiburan Pasar malam.Alat musik yang serba tradisonal seperti,Aggung(Gong),Dau,Suling,Gendang dan yang ciri khasnya musik ini adalah sebuah Pluit,dari segi pakaian mereka yang memainkan alat musik berpakaian bebas rapi,kecuali di sebuah acara resmi mereka mengunakan pakaian adat dayak,sedangkan untuk penari Jonggan berpakaian Kebaya Ala orang mau keundangan ini adalah ciri khas Jonggan. dengan penggaruh luar jonggan sekarang hampir jarang di lihat penampilannya baik di acara resmi mau pun pesta-pesta di kampung.ini merupakan persaingan seni kebudayan lokal dan Barat, coba kita lihat di mana-mana ada pesta-pesta baik lokal mau pun Resmi seperti HUT-RI jarang sekali di tampilkan kesenian budaya lokal seperti jonggan yang memenuhi lapangan adalah, Band, Karoke tempel, ini yang bisa menghibur para penikmat musik seperti orang-orang muda.untuk penikmat kesenian daerah hanya orang tua yang sudah peot. Di Kal-Bar sekarang Jonggan telah di lestarikan oleh sangar-sangar dari berbagai Kabupaten,untuk menghidupkan kembali kesenian daerah kita yang telah mati.Sangar-sangar ini bisa menjadi tombak pelestarian kebudayaan lama baik dari segi tari-tarian,tarik suara dan banyak lagi kegiatan yang ada dalam sangar tergantung bagaimana sang ketua sanggar mengatur waktu latihan untuk anak di sanggar.
B. Seni Musik
Musik tradisional bagi masyarakat Dayak Kanayatn merupakan salah satu aspek kebudayaan yang memiliki bentuk dan ciri khas dari setiap kelompok. Meskipun demikian, hampir semua kelompok mempunyai ciri-ciri dasar yang hampir sama antara satu dengan lainnya. Musik itu pada umumnya ditampilkan sebagai bagian upacara besar dalam siklus kehidupan dan peringatan waktu tertentu. Disamping itu digunakan pula sebagai hiburan, seperti dalam kesenian Jonggan.
Irama musik Dayak Kanayatn tergolong musik yang sangat fleksibel, sehingga dapat digunakan dalam upacara atau untuk mengiringi kesenian lain sebagai hiburan, seperti iringan tari, teater daerah, dan bentuk sajian tunggal (komposisi). Adapun jenis-jenis irama musik Kanayatn adalah sebagai berikut.
1). Irama Musik Bagu
Irama musik ini diciptakan oleh Abakng Nyawatn. Menurut tradisi lisan proses penciptaannya terinspirasi dari tujuh riam yang terdapat di sungai Bagu, sehingga musik tersebut dianggap sebagai replika bunyi dari ketujuh riam tersebut. Irama musik ini dibagi menjadi 7 bagian, yaitu Bagu, Samoko Lajakng, Samoko Batimang, Samoko Bagantung, Samoko Tapang, Taredek, dan Marense’.

2). Irama Musik Jubata
Irama musik Jubata dicipatakan oleh seorang Pamaliat (dukun) yang bernama Ne’ Ape’ Mantohari. Irama musik ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Jubata Lajakng atau Jubata Manta’, Jubata Masak, Jubata Bagael atau Jubata Babulakng, Pate Mangkok atau Jubata Pulakng.
3). Irama Musik Totokng
Pencipta irama musik Totokng adalah Samine Nak Janyahakng Tatek. Menurut cerita lisan beliau diajari langsung oleh roh halus bernama Kamang Mantekng. Irama musik ini dibagi menjadi enam bagian, yaitu Totokng Maniamas, Totokng Palanteatn, Totokng We’ Ongan, Totokng Binalu, Ledang Lajakng, dan Ledang Panyaot.
4). Irama Musik Bawakng
Irama Bawakng berasal dari Ne’ Saruna Nak Ujatn Jantu’. Menurut cerita beliau mendapatkan pengetahuan tentang irama musik tersebut dari Ne’ Nyala’ Nang Nukukng Pajaji. Musik ini dibagi menjadi tujuh bagian, yaitu Bawakng Lajakng, Bawakng Samoko, Bawakng Nyangkodo, Bawakng Joragan, Bawakng Kadedeng, Bawakng pulo atau Bawakng Panca, dan Bawakng Baramutn.
5). Irama Musik Dendo
Irama musik ini berasal dari Ne’ Dara Enokng. Ia memperoleh pengetahuan irama musik tersebut dari Sinede Pamalitn Pujut. Irama musik ini dibagi mejadi tiga bagian, yaitu Dendo 1, Dendo 2, Dendo 3.
6). Irama Musik Panyinggon.
Irama musik ini diperkenalkan oleh Ne’ Rendeng yang dipelajari langsung dari Sijore Pamaliatn Mawing. Musik ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Panyinggon, Kaldoleng, Gundali, Denayu.
7). Irama Musik Sipanyakng Kuku
Irama musik Sipanyakng Kuku diciptakan oleh Ne’ Tumas yang dipelajari dari Oera Pamaliatn Buntianak. Musik ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Sipanyakng Kuku, Dara Enek, dan Sigurinti.
8). Irama Musik Ngaranto
Irama musik ini diciptakan oleh Dayakng Dadompa yang dipelajarinya langsung dari Bang Kire Pamaliatn Subayatn. Irama musik ini dibagi menjadi sembilan belas bagian, yaitu Singkaluma’, Patabakng Urakng Mati, Guruh Ari atau Ola’ Oleh, Anyut-anyut Titisawa, Gora’-Gora’, Jaja’ Nyango, Ne’ Nange, Titi Bajoa, Batakng Singunang, Tingkakok, Saka Barime, Rumah Ne’ Jule, Rangkat Tabu, Sare Andang, Soka’ Soke, Ranto Padakng, Rindu’ Ati, Burukng Bapuput, dan Danakng Liokng.
Irama musik Dayak Kanayatn merupakan tabuhan pokok yang banyak digunakan sebagai iringan tari dalam ritual perdukunan dan ansambel kesenian Jonggan. Selain tabuhan tersebut terdapat pola tabuhan Melok untuk mengiringi tarian pencak (silat) dalam upacara Pangka’, kemudian tabuhan Amboyo yang digunakan dalam upacara Naik Dango.
Kesenian tradisi di Indoneseia tumbuh dan berkembang sejalan dengan tuntutan kehidupan manusia yang kebanyakan berhubungan dengan kepercayaan atau agama. Berbagai bentuk pemujaan sebagai manifestasi religius diungkapkan bersamaan dengan penuangan nilai keindahan. Keterkaitan kedua unsur tersebut akhirnya membentuk harmonisasi sosial yang diwadahi dalam sebuah upacara, sehingga segala elemen penting yang terkait menjadi bagian yang saling mendukung dalam pemberian makna terhadap kehidupan masyarakat. Begitu pula dengan musik Dayak Kanayatn sebagai refleksi keindahan, ia menjadi satu kesatuan dengan upacara yang diikutinya. Hilangnya salah satu unsur penting upacara (musik) menyebabkan berubahnya nilai yang telah ada sejak awal pembentukannya. Berubahnya nilai akan merubah pula arti dasar upacara yang dapat menyebabkan disintegrasi fungsi bagi masyarakat. Lambat laun masyarakat dapat saja tidak lagi membutuhkan kesenian tersebut, karena tidak sesuai lagi dengan adat dan budaya mereka. Oleh karena itu musik dan upacara, serta segala elemen di dalamnya harus dipandang sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan untuk mendukung eksistensi masyarakat itu sendiri.
Keterkaitan antara upacara, musik, sesaji dan kepercayaan masyarakat dapat dipandang sebagai wujud kebudayaan yang tidak terpisahkan. Kebudayaan ideal (kepercayaan) dan adat akan memberi arah kepada tindakan manusia, seperti pikiran dan ide-ide. Selanjutnya tindakan dari ide itu akan menghasilkan karya, seperti musik dan sesaji. Hal ini berhubungan dengan apa yang dikatakan Koentjaraningrat bahwa:
Kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu: (1) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, norma-norma, peraturan dan sebagainya; (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia; (3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud pertama (cultural system) adalah wujud ideal dari kebudayaan dan sifatnya abstrak yang terdapat dalam alam pikiran manusia. Wujud kedua (social system) adalah tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ketiga (kebudayaan fisik) adalah hasil dari tindakan atau karya manusia dalam bentuk fisik.4.
Semua unsur kebudayaan, seperti kepercayaan, upacara, musik dan sesaji dalam upacara dapat dipandang dari sebagai wujud kebudayaan untuk memperjelas kedudukannya. Sebagai contoh kepercayaan dan adat yang menjadi landasan upacara, adalah kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan yang berhubungan dengan tata cara pemujaan dalam suatu upacara. Semua realisasi norma dan peraturan dalam bentuk tingkah laku, seperti menari, membaca mantra, dan memainkan musik dalam upacara dapat dilihat sebagai kompleks aktivitas dan tindakan berpola yang terkait dengan kehidupan serta budaya masyarakatnya. Selanjutnya Semua bentuk karya manusia sebagai hasil dari aktifitas, seperti sesaji, tempat sesaji, properti upacara, alat musik, bahkan musik itu sendiri merupakan bentuk dari wujud fisik kebudayaan. Meskipun musik tidak berbentuk fisik, namun ia merupakan hasil karya manusia yang lahir dari tingkah laku tertentu. Di sini musik dipandang sebagai bagian dari karya, bukan tingkah laku, karena musik merupakan bunyi yang dihasilkan dari tingkah laku musikal manusia.
Kebanyakan upacara besar yang dilaksanakan masyarakat Dayak Kanayatn disertai dengan penampilan musik, seperti dalam upacara Baliatn Nyande. Musik tersebut dimainkan hampir disetiap prosesi. Tanpa ada musik upacara tersebut tidak dapat berjalan, karena dalam masyarakat Dayak Kanayatn antara tarian, musik, sesaji dan upacara merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Penggunaan musik dalam sebuah upacara merupakan keharusan. Bila tidak ada musik, dapat dikatakan upacara batal menurut adat atau tidak sah.
Keselamatan pemaliatn dalam upacara Baliatn ditentukan oleh musik, penyampang, dan pajaji (sesaji). Kesalahan musik dan sesaji dapat menyebabkan pamaliatn (dukun) pingsan saat melakukan upacara, sedangkan penyampakng (asisten dukun) berperan penting dalam membantu pengobatan pamaliatn. Panyampakng harus mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari pamaliatn, meskipun tidak mempunyai tanda atau takdir menjadi pamaliatn, setidaknya ia mempunyai ilmu yang setingkat dengan pamaliatn. Bila suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi saat pengobatan berlangsung, maka sewaktu-waktu panyampakng dapat membantu pamaliatn.
Penyajian irama musik Dayak Kanayatn kebanyakan digunakan untuk mengiringi vokal mantra dan pamaliatn menari. Musik dan tari-tarian itu tidak bisa lepas satu dengan lainnya. Hal ini dikarenakan musik dalam tradisi Dayak Kanayatn sulit dipisahkan dari kesenian lain, terutama seni tari dan ritus-ritus tertentu, semua itu saling berhubungan erat satu sama lain. Keduanya bersifat paralel (saling terkait) dan menjadi satu kesatuan sistem simbolik dalam pemujaan.
Keberadaan musik Dayak Kanayatn dianggap mempunyai peranan penting sebagai pengekspresian hubungan manusia dengan alam gaib. Hal ini dilatarbelakangi oleh lahirnya musik tersebut sebagai musik ritual untuk mengiringi pamaliatn menari dan membacakan mantra dalam upacara Baliatn. Pada sisi lain musik tersebut dianggap masyarakat dapat memenuhi kebutuhan mereka terhadap tuntutan batin akan nilai keindahan, sehingga keberadaannya dapat memberi arti penting secara menyeluruh (complexity) terhadap kehidupan masyarakat, baik sebagai hiburan, maupun sebagai penunjang keberadaan masyarakat itu sendiri.

*      alat musik dayak
Kalau didengarkan secara sepintas, musik Dayak Kanayatn (Kalimantan Barat) mirip dengan jenisi-jenis musik tradisional lainnya. Namun apabila menilik jenis alat musik yang dimainkan, musik Dayak Kanayatn memiliki ciri khas yang berbeda dengan yg lain. Ada 7 (tujuh) jenis musik Dayak Kanayatn berdasarkan alat musik yang dimainkan, yakni:
1. Agukng atau Gong;
Ada berbagai jenis agukng, yakni: Kakanong, Kampo atau Babaneh, Kanayatn, Katukeng, Katukong, Katuku', Agukng, dan Wayakng.
2. Tengga atau Dau (gamelan);
Pada awalnya terbuat dari belahan-belahan kayu yang terpilih dan nyaring bunyi. Namun setelah zaman perunggu, alat musik ini dibuat dari tembaga.
3. Tuma' atau Gendang;
4. Soleng atau Seruling; terbuat dari bambu tipis atau buluh.
5. Genggong; terbuat dari kulit pelepah enau atau apikng.
6. Antoneng; terbuat dari kulit bambu (buluh) anyang.
7. Sintetek Aji; beliung yg dipukul-pukulkan dengan mangkuk putih sehingga mengeluarkan bunyi yg merdu.

TRADISI LISAN ADAT DAYAK KANAYATN

Tradisi lisan Dayak Kanayatn sama halnya dengan adat yang berlaku dalam kehidupan mereka. Adat ini meliputi seluruh aspek kehidupan dan berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Ia mengatur kehidupan masyarakat dalam berinteraksi. Ketika masyarakat Dayak Kanayatn melanggar hukum adat, mereka sangat malu ketimbang mereka melanggar peraturan pemerintah. Hal ini karena adat merupakan peraturan warisan nenek moyang yang bersifat universal dan mengikat. Tidak menghormati adat dianggap “tidak beradat”. Bila masyarakat Dayak Kanayatn tidak beradat, maka dapat disamakan bukan orang Dayak. Hal seperti inilah yang menyebabkan tradisi lisan dan adat sangat dihormati, serta dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakatnya.
Tradisi lisan Dayak Kanayatn terkait erat dengan upacara. Semua tata pergaulan, perilaku dan upacara dalam masyarakat Dayak Kanayatn diatur oleh adat dan adanya sangsi bagi setiap pelanggaran. Melalui adat ini pula semua bentuk upacara dan musik dalam upacara dapat terjaga kelestariannya. Artinya adat atau tradisi lisan Dayak Kanayatn mengharuskan adanya upacara, sedangkan upacara berkaitan erat dengan musik sebagai bagian upacara.
Tradisi lisan masyarakat Dayak Kanayatn merupakan bagian dari mitos yang berhubungan dengan kepercayaan. Mitos-mitos ini menerangkan suatu kejadian yang suci atau suatu peristiwa yang dialami nenek moyang jaman dahulu. Masa purba merupakan masa yang suci dan pada waktu itu masih terjadi pertemuan dengan Ilahi. Keseluruhan mitos ini menjadi dasar tingkah laku untuk mendukung stabilitas pergaulan di masyarakat. Masyarakat sangat menghormati mitos, karena adat lahir dari mitos tersebut. Oleh karena itu wajar saja bila sebagian orang menganggap mitos sebagai kitab sucinya masyarakat Dayak Kanayatn, bahkan bagi seluruh masyarakat Dayak di Kalimantan.
Tradisi lisan Dayak Kanayatn terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang bercorak cerita, seperti cerita rakyat, legenda, epik, dan yang bercorak bukan cerita, seperti ungkapan, nyanyian puisi lisan, peraturan dan upacara adat.




1. Adapun tradisi lisan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Bercorak Cerita
1) Singara, jenis cerita rakyat biasa yang berhubungan dengan situasi kehidupan di masyarakat, seperti cerita jenaka, cerita pelipur lara, cerita binatang dan cerita percintaan.
2) Gesah, adalah cerita yang berhubungan dengan agama lama atau agama asli dan asal usul kehidupan. Contohnya cerita pahlawan, asal usul dunia, kehidupan, manusia, asal usul padi dan bercocok tanam (berladang), dan lain sebagainya.
3) Osolatn, yaitu kisah asal usul keturunan (jujuhatn) atau tentang silsilah keturunan suatu keluarga yang dapat dilacak lewat cerita tersebut. Contohnya seperti Osolatn atau jujuhatn Bukit Talaga.
4) Batimakng, yaitu kegiatan yang bersifat hiburan atau bujukan orang tua untuk anak-anak. Biasanya dibawakan pada waktu senggang atau saat mau tidur, seperti pepatah, pantun atau lagu (lagu pengantar tidur).
5) Pantutn, yaitu cerita berbentuk puisi yang berisi nasehat, peringatan, dan kasih sayang. Pantun ini banyak dibawakan dalam lagu-lagu Jonggan
6) Sungkalatn atau sungkaatn, yaitu cerita berbentuk perumpamaan atau pepatah tentang peringatan, penjelasan dan nasehat.
7) Salong, yaitu cerita dalam bentuk sindiran tentang suatu kebiasaan atau perilaku yang kurang baik mengenai pergaulan dalam masyarakat.
b. Bercorak Bukan Cerita
1) Sampore’, yaitu upacara yang berhubungan dengan rehabilitasi hubungan yang pernah cacat atau selisih, seperti dalam upacara perobatan Lenggang, Liatn, Dendo, Babuis (karena jukat atau roh halus yang mengganggu), Bapipis dan Batapukng Tawar.
2) Lala’, adalah semacam pantang atau larangan bagi masyarakat Kanayatn untuk makan makanan jenis tertentu, melakukan perkerjaan tertentu. Sebagai contoh bapantang sehabis mengadakan upacara ka’ Panyugu yang dilakukan masyarakat Dayak Kanayatn di sekitar Bukit Talaga.
3) Tanung, yaitu menentukan jenis perbuatan untuk mencari cara terbaik sebelum melakukan sesuatu dalam keadaan mendesak, seperti keadaan gawat, perang dan lain sebagainya. Tanung ini terbagi menjadi 5 macam, yaitu Tanung Ai’, Tanung Tali, Tanung Karake’, Tanung Sarakng Pinang, dan Tanung Dapa’ Layakng.
4) Baremah, yaitu permohonan penutup dalam suatu upacara atau sebagai tanda syukur atas hasil pekerjaan, seperti upacara pasca panen.
5) Renyah, yaitu sejenis pantun yang dilagukan yang biasanya berisi nasehat, sindiran, dan pesan yang terkait dengan kehidupan. Renyah biasanya dituturkan saat ke ladang, kebun dan hutan.
6) Bacece’, yaitu perundingan para tokoh kampung, sanak keluarga, kerabat sekampung mengenai budi, hutang orang yang telah meninggal.
7) Pangka’, yaitu upacara untuk memperingati Ne’ Baruakng sewaktu turun ke bumi membawa padi dan mengajarkan tradisi berladang kepada manusia.
Mura’atn, yaitu melakukan doa secara pribadi agar tidak ditimpa malapetaka.
9) Liatn, yaitu upacara ritual yang bersifat magis dan sakral dalam bentuk tarian dan doa atau vokal mantra (mantra yang dinyanyikan). Tujuannya pelaksanaan upacara ini tergantung dari orang atau keluarga yang melaksanakan, seperti berobat, mayar niat (membayar niat), ngangkat paridup (mengharap kehidupan yang lebih baik), dan lain sebagainya.
10) Mulo, yaitu pengucilan bagi orang yang melanggar adat istiadat dalam suatu masyarakat adat.
11) Gawe atau Gawai, yaitu upacara syukur atas apa yang telah diberikan Jubata atau menandai awal suatu kehidupan baru, seperti Gawe pasca panen, Gawe Balak (awal masa remaja), dan Gawe Penganten (menempuh hidup baru dalam berkeluarga).
12) Totokng, yaitu upacara penghormatan kepada kepala kayauan (kepala hasil mangayau) agar jangan sampai terkena kutuk kepala tersebut. Upacara ini dapat pula dikatakan untuk membuang sangar (dosa) atas kesalahan yang dilakukan saat Mangayau (memotong kepala) zaman dahulu.
13) Nyangahatn, yaitu upacara sembahyang atau berdoa menurut agama asli orang Dayak Kanayatn. Nyangahatn biasanya dilakukan sebelum melakukan sesuatu atau pada awal melakukan suatu upacara agar selamat dan terhindar dari gangguan makhluk halus. Nyangahatn juga digunakan untuk memanggil roh halus yang akan dimintai bantuannya dalam ritual pengobatan tradisional, seperti pengobatan dalam upacara liatn.
14) Dendo dan Lenggang, yaitu ritual perdukunan tradisi Dayak Kanayatn yang bersifat magis dan mendapat pengaruh budaya Melayu dan Cina. Tujuan upacara ini biasanya menyesuaikan niat orang atau keluarga yang melaksanakan upacara tersebut.


BAB III
PENUTUP

  1. KESIMPULAN
Suku Dayak, sebagaimana suku lainnya , memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang berlaku bagi mereka. Kebudayaan Dayak terus mengalami perubahan karena pengaruh dari luar dan dalam. Beberapa program pembangunan dan pembaharuan, kurang menghargai nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Dayak.
  1. SARAN
Sebagai generasi muda dari masyarakat dayak kanyatn, marilah kita secara bersama-sama melestarikan,mempertahankan,dan memberdayakan budaya kita agar semakin dikenal oleh budaya luar bahwa budaya dayak juga mempunyai eksistensi diluar Kalimantan barat.



DAFTAR PUSTAKA

1. Stepanus Djuweng ed., Manusia Dayak, Orang Kecil yang Terperangkap Modernisasi (Pontianak: Institute of Dayakology Research and Development, 1998) pp. 59-71.
2. Umar Kayam, Seni, Tradisi, Masyarakat (Jakarta: Sinar Harapan, 1981), p. 60.
3. Ibid , p. 58.
4. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, Cetakan kelapan, 1990), pp. 186-188.
5. Wawancara langsung dengan Maniamas Miden Sood, Seniman dan Dukun Dendo, 29 April 2006, Dsn. Asong Pala, Ds. Aur Sampuk, Kec. Sengah Temila, Kab. Landak, Kalimantan Barat. Diijinkan untuk dikutip.
6. Al Yan Sukanda, “Tradisi Musikal dalam Kebudayaan Dayak”, dalam Paulus Florus, ed., op.cit., p. 133.
7. ensiklopedi-budaya-indonesia.com